All posts by DL - Biandra

VVIP TOYS: Surga Nostalgia dan Inspirasi bagi Kolektor Mainan Indonesia

Di tengah maraknya tren koleksi mainan yang berkembang pesat di Indonesia, kehadiran VVIP TOYS Collectibles Store menjadi angin segar bagi para pecinta mainan. Toko yang dirintis oleh Antonius Soedjono ini lahir dari kecintaannya terhadap dunia koleksi, yang dimulai sejak tahun 2012. Dari sekadar hobi mengumpulkan action figure, koleksinya kini mencakup berbagai item langka, termasuk patung Iron Man setinggi dua meter yang menjadi daya tarik utama di tokonya.

VVIP TOYS bukan sekadar tempat untuk jual beli mainan. Antonius merancang tokonya sebagai ruang yang mampu membangkitkan kenangan masa kecil sekaligus menciptakan ikatan di antara sesama kolektor. Desain interiornya yang memamerkan karakter superhero dan film klasik memberikan pengalaman visual yang memikat baik bagi kolektor baru maupun veteran. Ia ingin pengunjung merasa bahwa setiap mainan punya nilai sejarah dan emosi.

Lebih dari itu, toko ini juga menjadi pusat komunitas. Antonius kerap mengadakan pertemuan kecil dan pameran koleksi yang bertujuan membangun semangat kebersamaan. Ia pun aktif memberikan edukasi melalui media sosial, membagikan tips tentang merawat koleksi dan mengenali produk orisinal. Baginya, dunia koleksi adalah tentang menghargai cerita, proses, dan seni di balik setiap mainan.

Dengan semangat tersebut, VVIP TOYS tumbuh menjadi lebih dari sekadar toko—ia menjadi simbol dedikasi dan kecintaan terhadap seni koleksi mainan di Indonesia.

Keasyikan Hobi Mengoleksi Hot Wheels, Lebih Dari Sekedar Mainan Anak

Hobi mengoleksi mobil mainan, khususnya Hot Wheels, telah menjadi sebuah fenomena yang menarik perhatian banyak orang dari berbagai usia. Meskipun Hot Wheels awalnya dirancang untuk anak-anak, seiring berjalannya waktu, mobil miniatur berbahan metal ini berhasil menarik minat para penggemar otomotif hingga kolektor dewasa. Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 1968 di Amerika Serikat, Hot Wheels dikenal dengan desainnya yang unik, mulai dari mobil klasik, mobil balap, hingga mobil-mobil futuristik.

Bagi para kolektor, Hot Wheels lebih dari sekadar mainan. Koleksi ini menjadi media untuk menyelami dunia otomotif dalam versi miniatur. Hot Wheels juga menawarkan berbagai model langka, edisi terbatas, serta variasi warna dan desain yang semakin meningkatkan daya tariknya. Hobi mengoleksi mobil miniatur ini bahkan bisa menjadi potensi investasi, di mana harga beberapa edisi langka dapat mencapai jutaan hingga miliaran rupiah.

Di Pulau Bintan, seorang kolektor bernama Heru Sukma membagikan pengalamannya tentang kecintaan terhadap Hot Wheels. Awalnya mengoleksi Gundam, Heru akhirnya beralih ke Hot Wheels karena ketertarikannya pada otomotif dan melihat teman-temannya yang juga mengoleksi mobil miniatur tersebut. Menurut Heru, keasyikan mengoleksi Hot Wheels terletak pada berburu model-model unik dan langka. Beberapa model bahkan diproduksi dalam jumlah terbatas dan harganya bisa sangat fantastis, seperti Rear-Loading Beach Bomb yang dihargai Rp 2 miliar.

Koleksi Hot Wheels ini juga menjadi ajang kreativitas bagi para penggemar, yang sering kali melakukan modifikasi pada mobil miniatur mereka. Modifikasi ini bisa mencakup penggantian cat, roda, atau penambahan desain tertentu untuk menciptakan tampilan yang lebih unik. Tidak hanya itu, para kolektor sering berkumpul dalam komunitas untuk saling berbagi pengetahuan, berdiskusi, bahkan menggelar pameran dan lelang.

Bagi siapa pun yang tertarik dengan hobi ini, baik untuk nostalgia masa kecil atau bahkan untuk memulai investasi, mengoleksi Hot Wheels pasti memberikan kepuasan tersendiri.

Pudgy Penguins Kembali Bikin Heboh, Koleksi Mainan Barunya Laris dan Populerkan Dunia Virtual

Pudgy Penguins, salah satu merek NFT paling ikonik, kembali menjadi sorotan dengan peluncuran mainan anak-anak terbaru mereka. Setelah sukses besar dengan koleksi Banana Suit yang terjual habis hanya dalam 7 detik, kali ini mereka menghadirkan koleksi ‘Left Facing’ yang terinspirasi dari karakter Pudgy Penguin #6873. Dalam waktu singkat, merek ini membuktikan ketenarannya lewat performa luar biasa di Amazon. Hanya dalam 48 jam setelah peluncuran, sekitar 20.000 unit mainan vinyl dan boneka plush berhasil terjual, menghasilkan pendapatan hingga setengah juta dolar AS, bahkan melampaui merek raksasa seperti Disney, Transformers, Barbie, dan Lego.

Keunikan dari mainan ini adalah adanya ‘kode pengalaman digital’ yang memungkinkan pemiliknya masuk ke dalam ‘Pudgy World’, dunia virtual bertema komunitas dengan karakter-karakter lucu khas Antartika. Popularitas mainan ini juga ikut mengerek nilai NFT Pudgy Penguins, dengan harga dasar NFT melonjak sekitar 22 persen, dari 8.800 dolar AS menjadi sekitar 10.000 dolar AS.

Koleksi ‘Left Facing’ resmi dirilis pada 8 Agustus 2023 melalui platform online NTWRK, membuka peluang bagi komunitas baru yang mungkin sebelumnya belum familiar dengan dunia NFT. Tak hanya itu, Pudgy Penguins memperluas jangkauannya ke pasar Asia melalui kolaborasi dengan SASOM, platform koleksi ternama di Thailand. Meskipun muncul kekhawatiran terkait kebutuhan dompet kripto untuk akses penuh ke pengalaman digital, Pudgy Penguins tetap berhasil membawa lebih banyak kolektor umum ke dunia blockchain melalui produk inovatif ini.

Nostalgia Seru di Zero Toys, Surga Koleksi Mainan Era 80-an di Bandung

Bandung kembali menghadirkan destinasi wisata unik yang wajib dikunjungi, yakni Zero Toys, sebuah museum mainan yang menghadirkan nuansa penuh nostalgia. Mengusung konsep museum, tempat ini mengoleksi ribuan mainan dari ikon dan karakter populer yang membesarkan anak-anak era 1980-an. Berlokasi di pusat kota, tepatnya di Jalan Sunda No. 39a, Sumur Bandung, Zero Toys menjadi satu-satunya museum di Indonesia yang fokus pada koleksi mainan klasik tersebut.

Walau usianya sudah puluhan tahun, mainan-mainan di Zero Toys tetap terjaga kondisinya dengan baik. Museum ini sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 1999 dan menjadi impian banyak kolektor tanah air. Lebih dari 3.500 koleksi dapat ditemukan di sini, mulai dari mainan karakter anime, serial TV legendaris, hingga mainan non-karakter yang begitu ikonik pada zamannya. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah koleksi lengkap Star Wars, mencakup mainan, novel, hingga memorabilia yang membawa pengunjung seolah menjelajahi galaksi masa lalu.

Zero Toys terdiri dari tiga lantai, di mana selain museum, tersedia juga toko mainan bagi pengunjung yang ingin membawa pulang sebagian kenangan. Bagi pecinta video game, tersedia pula berbagai koleksi permainan klasik yang siap membangkitkan kenangan masa kecil. Museum ini beroperasi setiap Jumat hingga Minggu, dan untuk kunjungan khusus, pengunjung dapat mengatur jadwal lewat akun Instagram resminya. Menariknya, untuk masuk, pengunjung cukup membeli merchandise berupa stiker pack bertema 1980-an, tanpa perlu membayar tiket masuk konvensional.

Chika Jessica Terbuka Tentang Hobi Koleksi Mainan dan Pop Mart di Indonesia

Presenter Chika Jessica yang dikenal dengan karakter cerianya ternyata memiliki hobi unik, yaitu mengoleksi mainan. Ia mengaku menyisihkan sebagian dari honor pekerjaannya untuk menambah koleksi mainan di rumah. Beberapa koleksi yang ada antara lain Cry Baby, Labubu, dan Dimoo. Menurut Chika, ia sering kali merasa terpengaruh tren atau FOMO (Fear Of Missing Out) ketika melihat barang-barang populer, seperti koleksi mainan yang digunakan oleh Lisa BLACKPINK. “Kalau ada honor, aku sisihkan sedikit untuk beli mainan, terutama yang lagi hits,” ungkapnya saat membuka toko Pop Mart di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta.

Salah satu koleksi terbaru yang jadi incaran Chika adalah Skullpanda The Mirage, edisi terbatas yang baru pertama kali hadir di Indonesia. Pop Mart, yang telah membuka toko keempat di Summarecon Mall Kelapa Gading, semakin berkembang seiring dengan meningkatnya minat terhadap koleksi mainan jenis ini. Rudy Kurniawan, Business Development Manager Pop Mart Indonesia, menjelaskan bahwa pasar di Indonesia semakin luas dan Pop Mart berharap dapat menjangkau seluruh Jakarta. “Mall Kelapa Gading cocok dengan pasar kami yang fokus pada lifestyle dan art toys,” kata Rudy.

Tak hanya di dalam negeri, para kolektor juga rela berburu mainan hingga ke luar negeri. Namun, Rangga Moela, penyanyi yang juga penggemar Pop Mart, mengatakan bahwa harga di Indonesia jauh lebih terjangkau dibandingkan negara lain. Ia menyarankan penggemar untuk sabar menunggu koleksi baru yang pasti akan hadir di Indonesia. Selain itu, influencer Jovie Adiguna berharap Pop Mart dapat berkolaborasi dengan seniman Indonesia untuk menciptakan karakter khas yang bisa mewakili budaya lokal.

McDonald’s Kolaborasi dengan Minecraft, Hadirkan Mainan Eksklusif untuk Kolektor!

Mainan bukan hanya menjadi favorit anak-anak, tetapi juga orang dewasa, terutama bagi para kolektor mainan yang selalu mencari item langka dan edisi terbatas. Salah satu yang menjadi buruan kolektor adalah mainan Happy Meal dari McDonald’s, yang biasanya dirilis dalam jumlah terbatas pada setiap edisinya. Bagi kolektor, mainan seperti ini memiliki daya tarik tersendiri.

Kali ini, McDonald’s Indonesia mengumumkan kolaborasi dengan Minecraft, seiring dengan tayangnya film Minecraft Movie di bioskop Indonesia. Kolaborasi ini menghadirkan pengalaman baru yang memadukan dunia Minecraft dengan menu spesial dari McDonald’s, yaitu A Minecraft Movie Meal dan Happy Meal eksklusif.

Caroline Kurniadjaja, Associate Director of Marketing McDonald’s Indonesia, menyampaikan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk memberikan pengalaman koleksi yang mendorong kreativitas tanpa batas. Setiap pembelian A Minecraft Movie Meal akan mendapatkan satu Minecraft Movie Blind Box, yang berisi salah satu dari enam karakter ikonik yang terinspirasi dari menu favorit McDonald’s yang dipadukan dengan elemen khas Minecraft.

Selain mainan, setiap Blind Box juga dilengkapi dengan kartu eksklusif yang berisi kode unik. Kode tersebut dapat ditukarkan dengan skin spesial di dalam game Minecraft, sesuai dengan karakter yang didapatkan. Beberapa karakter ikonik yang dapat ditemukan di dalam koleksi ini antara lain Big Mac Crystal Blok, Birdie Wings, Fry Helmet, Grimace Egg, Soda Potion, dan Zombie Hamburglar, masing-masing dengan desain unik yang menarik perhatian penggemar.

Koleksi Action Figure Dimas Prasetyo: Lebih dari Sekadar Hobi, Ini Cerita di Baliknya

Dimas Prasetyo, seorang karyawan swasta berusia 29 tahun asal Jakarta, telah memiliki koleksi action figure yang kini lebih dari seratus buah. Semua dimulai saat ia masih kuliah, ketika ia membeli Iron Man Mark 42. Sejak saat itu, ketertarikannya terhadap action figure semakin berkembang. Kini, koleksinya mencakup berbagai karakter dari Gundam, One Piece, Dragon Ball, hingga berbagai karakter dalam dunia game.

Bagi Dimas, hobi ini bukan hanya soal membeli barang, namun lebih pada cerita yang ada di balik setiap figur. Beberapa koleksinya bahkan dibeli dengan harga yang cukup tinggi, melalui preorder berbulan-bulan, atau lelang yang berlangsung hingga tengah malam. Namun, semua itu dianggapnya sangat berharga. “Setiap figur punya cerita. Itu lebih dari sekadar pajangan,” ungkapnya saat berbincang dengan RRI Medan.

Hobi ini juga menjadi momen berharga untuk bonding bersama keluarga, seperti saat Dimas merakit Gundam bersama keponakannya. Meskipun banyak orang menganggap koleksi action figure ini sebagai “mainan mahal untuk orang dewasa”, Dimas tak merasa terganggu dengan pandangan tersebut. Baginya, yang terpenting adalah kebahagiaan dan tidak mengganggu orang lain.

Untuk pemula yang ingin memulai hobi ini, Dimas memberikan beberapa tips. Pertama, pilih karakter favorit, kemudian atur anggaran, pelajari jenis dan brand yang ada, serta bergabung dengan komunitas penggemar untuk berbagi pengalaman. Hobi ini bagi Dimas lebih dari sekadar mengumpulkan mainan; ia melihatnya sebagai gabungan antara nostalgia, seni, dan kebahagiaan.

20.000 Mainan dan Satu Rekor Dunia: Perjalanan Epik Kolektor Cepat Saji dari Filipina

Percival Lugue, seorang seniman asal Filipina, menjadi sorotan dunia berkat kecintaannya pada mainan yang diperoleh dari paket makanan cepat saji. Di kediamannya yang berada di Apalit, provinsi Pampanga, ia dengan bangga memamerkan ribuan koleksi mainan yang disusunnya secara rapi. Hobi unik ini telah ia tekuni sejak berusia lima tahun dan membawanya mengukir prestasi luar biasa: memegang Rekor Dunia Guinness untuk koleksi mainan cepat saji terbanyak di dunia.

Pada tahun 2014, Guinness World Records resmi mengakui koleksinya yang saat itu telah melampaui angka 10.000 mainan. Namun, hingga tahun 2021, jumlah tersebut telah melonjak drastis mencapai sekitar 20.000 item. Percival tidak hanya mengoleksi mainan, ia bahkan membangun sebuah rumah khusus demi menampung dan merawat benda-benda penuh nostalgia ini.

Kecintaannya terhadap mainan cepat saji bukan sekadar koleksi, tetapi juga menjadi bentuk ekspresi artistik dan dedikasi yang luar biasa terhadap dunia masa kecil. Dalam setiap tumpukan mainan yang tertata di rak-rak rumahnya, terdapat kisah tentang usaha, kenangan, dan semangat yang menginspirasi.

Di usianya yang menginjak 50 tahun, Percival terus mengembangkan koleksinya dengan penuh semangat. Baginya, setiap mainan bukan sekadar barang, melainkan potongan cerita dari hidup yang terus ia susun satu per satu. Koleksinya kini tak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tapi juga simbol dedikasi dan cinta pada hal-hal sederhana yang membawa kebahagiaan besar.

Rangga Moela, Artis yang Kecanduan Koleksi Art Toys Langka

Rangga Moela, yang dikenal lewat kiprahnya di dunia hiburan, memiliki hobi unik yang berbeda dari kebanyakan orang. Selain berkarir di industri musik dan film, Rangga adalah seorang kolektor art toys atau mainan seni. Dalam sebuah kesempatan, Rangga mengungkapkan kecintaannya terhadap mainan langka yang bernilai seni tinggi. “Aku sangat menghargai karya seni, terutama yang diciptakan oleh seniman-seniman pembuat mainan,” katanya saat ditemui di gerai Pop Mart, Jakarta Utara.

Salah satu jenis mainan yang paling banyak dikoleksi oleh Rangga adalah Labubu. Artis yang pernah bermain dalam film Catatan Akhir Kuliah ini bahkan sudah memiliki lebih dari 100 koleksi Labubu. Koleksinya beragam, mulai dari boneka, action figure, hingga berbagai aksesoris kecil seperti tas dan bag charm yang semuanya bertemakan Labubu. Menariknya, beberapa edisi Labubu yang dimilikinya sangat eksklusif dan hanya tersedia di negara tertentu. “Contohnya di Thailand ada Labubu versi Thailand, dan di Singapura ada Labubu Merlion hasil kolaborasi,” jelas Rangga.

Untuk mendapatkan koleksi edisi terbatas ini, Rangga tak segan-segan melakukan perjalanan jauh. Salah satunya adalah ke Singapura untuk mendapatkan Labubu Merlion yang sangat sulit ditemukan. “Jarak terjauh yang aku tempuh untuk Labubu adalah ke Singapura karena versi ini langka banget,” tuturnya. Meski begitu, Rangga berharap kolektor mainan di Indonesia bisa menikmati produk-produk tersebut tanpa harus bepergian ke luar negeri, mengingat harga di Indonesia lebih terjangkau.

POP MART Resmi Buka Gerai Keempat di Mall Kelapa Gading Jakarta Utara

POP MART Indonesia kini semakin memperkuat eksistensinya di pasar Indonesia dengan membuka gerai keempatnya di Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara. Gerai yang terletak di lantai dasar ini memiliki luas 154 meter persegi dan siap menjadi pusat bagi para kolektor art toys dan lifestyle. Rudy Kurniawan, Business Development Manager PT POP MART Indonesia, menyatakan bahwa Mall Kelapa Gading dipilih karena cocok dengan target pasar POP MART yang menyasar segmen lifestyle dan art toys. Menurut Rudy, mall ini memiliki pengunjung dan tenant yang variatif, sehingga sangat sesuai dengan audiens POP MART.

Pada hari pembukaan, POP MART menghadirkan koleksi eksklusif SKULLPANDA The Mirage yang pertama kali hadir di Indonesia. Selain itu, pengunjung juga bisa menemukan berbagai koleksi limited edition yang hanya tersedia di gerai ini. Jovie Adiguna, influencer yang hadir dalam acara tersebut, mengungkapkan harapannya agar POP MART bisa terus berkembang di Indonesia dan berkolaborasi dengan seniman lokal untuk menciptakan karakter khas Indonesia.

Rangga Moela, seorang penyanyi yang juga penggemar POP MART, mengungkapkan bahwa harga item di Indonesia lebih terjangkau dibandingkan dengan negara lain, sehingga penggemar tidak perlu repot-repot membeli barang dari luar negeri. Sementara itu, presenter Chika Jessica juga mengungkapkan kebiasaannya untuk menyisihkan sebagian honor dari pekerjaannya guna menambah koleksi POP MART di rumah.

Untuk merayakan pembukaan gerai baru ini, POP MART akan menerapkan sistem e-ticketing dari 18 hingga 20 April untuk memastikan pengalaman yang nyaman bagi pengunjung. Setelah tanggal tersebut, gerai akan dibuka untuk umum tanpa perlu e-ticket.